Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi 1G – 5G

Sponsor Link

 

Perkembangan teknologi informasi khususnya sistem komunikasi nirkabel seluler telah melalui beberapa tahap evolusi dalam beberapa dekade terakhir sejak pengenalan jaringan teknologi informasi seluler generasi pertama pada awal era 1980-an. Berkat permintaan yang besar untuk kebutuhan koneksi di seluruh dunia, standar teknologi dalam komunikasi seluler maju dengan cepat untuk mendukung lebih banyak pengguna.

Sejarah Teknologi Informasi Seluler

Marconi, seorang penemu asal Italia, mentransmisikan sinyal kode Morse dengan menggunakan gelombang radio secara nirkabel hingga jarak sejauh 3,2 km pada tahun 1895. Percobaan ini adalah transmisi nirkabel pertama dalam sejarah sains khususnya teknologi informasi. Sejak saat itu, para insinyur dan ilmuwan mulai bekerja untuk mencari cara yang lebih efisien untuk berkomunikasi menggunakan gelombang RF.

Perkembangan teknologi informasi kemudian bergerak cepat dari transmisi radio RF ke telegram dan akhirnya tiba ke masa dimana telepon menjadi sebuah benda populer pada pertengahan abad ke-19. Namun, seiring waktu koneksi dengan menggunakan kabel yang mengakibatkan mobilitas yang terbatas, membuat para ilmuwan kembali mulai mencari cara untuk mengembangkan perangkat yang tidak memerlukan koneksi kabel dan dapat mengirimkan suara menggunakan gelombang radio.

Martin Cooper, seorang insinyur yang bekerja untuk Motorola selama era 1970-an memilih untuk menfokuskan dirinya pada penelitian tentang perangkat genggam yang mampu berkomunikasi dua arah secara nirkabel. Setelah sederet percobaan, Cooper bersama tim akhirnya menemukan ponsel generasi pertama yang menjadi gerbang baru pada era teknologi informasi modern. Uniknya, penemuan ponsel generasi pertama ini pada awalnya dikembangkan untuk dapat digunakan di dalam mobil, prototipe pertama yang konon akan menjadi ponsel pertama di dunia diuji pada tahun 1974 silam. Penemuan ini dianggap banyak ilmuwan sebagai titik balik dalam terciptanya komunikasi nirkabel yang mengarah pada evolusi berbagai teknologi informasi dengan berbagai standar terbarui di masa yang akan datang.

Transisi Teknologi Informasi dari 1G hingga 5G

Teknologi informasi dan jaringan telah dan akan menjadi salah satu inti dalam membantu evolusi umat manusia dan teknologi itu sendiri. Jika bukan karena teknologi komunikasi dan transmisi data ini, kita mungkin masih berada di era di mana teknologi tidak semaju sekarang.

Teknologi informasi dan komunikasi nirkabel di dalam ponsel dan perangkat seluler lainnya telah berkembang dalam beberapa dekade terakhir. Dimulai dengan teknologi 1G yang revolusioner hingga kemampuan 4G yang saat ini lazim digunakan dan teknologi 5G yang mungkin akan menyapa kita dalam waktu dekat.

Pada tanggal 1 Desember 2018 lalu, Korea Selatan menjadi negara pertama yang menawarkan kemampuan 5G dengan standar nirkabel seluler generasi kelima dan cukup wajar untuk mengatakan bahwa industri seluler telah membuat kemajuan yang menakjubkan sejak panggilan telepon pertama dilakukan pada tahun 1973 silam.

Perangkat seluler yang merupakan inti dari teknologi informasi telah membentuk kembali dunia kita dengan cara yang tidak pernah bisa kita prediksi sebelumnya. Sebagian besar negara di dunia termasuk Indonesia, berencana untuk mulai mengadopsi 5G pada tahun 2020 mendatang dan teknologi ini dipersiapkan untuk membantu mendorong perkembangan Internet of Things (IoT) dan pengelolaan data dalam jumlah yang besar.

Setiap generasi dalam standar teknologi nirkabel telah memperkenalkan kemajuan dalam kapasitas pengelolaan data dan penurunan latensi, dan tidak terkecuali juga untuk 5G. Meskipun standar 5G secara formal belum ditetapkan, 5G diharapkan setidaknya dapat tiga kali lebih cepat dari standar koneksi 4G saat ini. Tetapi sebenarnya, apa yang benar-benar telah berubah? Selain itu, apa prinsip dan penggerak inti dari teknologi informasi dan komunikasi nirkabel ini?

Sebelum melangkah ke sana, pertama-tama Anda perlu tahu terlebih dahulu bahwa G dalam 4G atau 5G adalah singkatan dari generation dan jumlahnya hanyalah representasi dari evolusi teknologi. Saat ini, seperti yang Anda ketahui, kita menggunakan teknologi komunikasi nirkabel generasi ke-4. Tapi, untuk mengetahui lebih dalam tentang transisi teknologi informasi dan komunikasi nirkabel ini, mari kita mulai dari tempat semuanya dimulai.

 

Jasa Pembuatan Website dan Aplikasi

1G

Generasi pertama dari jaringan seluler pertama kali diluncurkan oleh Nippon Telegraph and Telephone (NTT) di Tokyo pada tahun 1979. Berselang lima tahun kemudian, NTT telah berhasil meluncurkan basis teknologi 1G untuk mencakup seluruh wilayah Jepang.

Amerika Serikat terlambat empat tahun dalam mengadopsi teknologi ini dimana pada tahun 1983, Senator akhirnya menyetujui operasional teknologi informasi berbasis 1G pertama kali dan DynaTAC Motorola menjadi salah satu ponsel mobile pertama yang digunakan secara luas. Beberapa negara-negara lain seperti Kanada, Inggris dan Perancis meluncurkan jaringan 1G mereka sendiri beberapa tahun kemudian.

Namun, teknologi 1G ini memiliki sejumlah kelemahan. Cakupan yang buruk dan kualitas suara rendah menjadi dua hal yang membuatnya tidak cukup berhasil untuk menggantikan penggunaan telepon rumah. Tidak adanya dukungan roaming antara berbagai operator dan karena sistem yang berbeda dalam operasional pada rentang frekuensi yang berbeda, mengakibatkan tidak adanya kompatibilitas antar sistem. Hal yang lebih buruk dari semua itu adalah fakta bahwa tiap panggilan ini tidak dienkripsi, sehingga siapa pun yang menggunakan pemindai radio dapat menerima panggilan.

Terlepas dari sederet kekurangan ini ditambah dengan patokan harga untuk layanan yang sangat mahal berkisar sekitar Rp 130 jutaan per bulannya, teknologi jaringan 1G telah membuka jalan bagi generasi kedua, yang disebut 2G.

2G

Generasi kedua dari evolusi teknologi informasi dan jaringan seluler, atau lebih dikenal dengan teknologi 2G, diluncurkan di bawah GSM Standard di Finlandia pada tahun 1991. Perkembangan ini terbilang cukup lambat mengingat perbaikan mendasar yang diperoleh pengguna dalam jaringan 2G yang mungkin tidak akan terbayangkan dapat dihasilkan dalam ranah teknologi 1G.

Dengan dukungan jaringan 2G, untuk pertama kalinya panggilan para pengguna dapat dienkripsi dengan sempurna dan panggilan suara yang sebelumnya masih bersifat semi digital –beberapa provider bahkan masih menggunakan transmisi analog–kini telah berubah menjadi pure digital yang secara signifikan memberikan kualitas yang lebih jelas dengan sedikit lebih statis dan latar belakang suara yang pecah.

Tetapi 2G lebih dari sekadar evolusi teknologi informasi saja, karena cakupan jaringan ini membantu meletakkan dasar bagi revolusi budaya dan cara kita berkomunikasi di dunia modern saat ini. Untuk pertama kalinya, pengguna dapat mengirim pesan teks (SMS), pesan gambar, dan pesan multimedia (MMS) melalui ponsel mereka. Masa lalu berbasis analog 1G memberi jalan ke teknologi masa depan digital yang disajikan oleh 2G.

Perkembangan yang sangat signifikan ini akhirnya menyebabkan adopsi teknologi secara massal baik oleh konsumen dan bisnis dalam skala yang belum pernah terlihat sebelumnya. Teknologi 2G benar-benar telah memberikan sedikit celah pada konsep modern dari cara manusia berinteraksi di masa yang akan datang. Konsep internet via perangkat seluler juga pertama kali diperkenalkan selama periode adaptasi 2G ini.

Meskipun kecepatan transfer 2G pada awalnya hanya sekitar 9,6 kbit/s, operator telekomunikasi dunia terus bergegas untuk berinvestasi dalam sederet infrastruktur baru seperti menara seluler dan kemampuan rebound sinyal yang lebih. Pada akhir era teknologi 2G ini, kecepatan transfer data mencapai 40 kbit/s dengan koneksi EDGE menawarkan kecepatan hingga 500 kbit/s.
Meskipun kecepatannya relatif lambat, 2G merevolusi lanskap bisnis dan mengubah dunia selamanya. Dampak inilah yang kemudian menjadi trigger utama bagi perkembangan sederet teknologi informasi yang hingga kini masih terus menjadi pusat perhatian publik dunia. 2G mengenalkan manusia pada konsep komunikasi tanpa batas yang kemudian diangkat lebih jauh dalam penerapan teknologi 3G beberapa tahun kemudian.

Sponsor Link

3G

Evolusi pada teknologi informasi memaksa para pengguna untuk menunggu setidaknya 10 tahun untuk meraih level 3G yang pertama kali diluncurkan oleh NTT Docomo pada tahun 2001. Rilis pertama kalinya teknologi jaringan nirkabel ini ditujukan untuk membakukan protokol jaringan yang digunakan oleh banyak vendor telekomunikasi dunia.

Transisi ini berarti bahwa para pengguna dapat mengakses data dari lokasi dimana pun mereka ada di dunia karena paket data yang mendorong kemampuan konektivitas web telah distandarisasi secara global. Teknologi jaringan 3G adalah yang pertama kali membuka celah ke pada jasa layanan roaming secara internasional.

Selain itu, peningkatan kemampuan transfer data 3G yang 4 kali lebih cepat dari yang dimiliki 2G juga menyebabkan munculnya berbagai layanan baru yang membuka luas perkembangan bisnis berbasi teknologi informasi seperti layanan konferensi video call, streaming video, dan voice over IP.

Puncak kejayaan dari 3G bisa dikatakan datang pada era tahun 2002-2005 dimana ketika itu Blackberry mulai diluncurkan ke pasaran dengan banyak dari fitur-fiturnya yang unik dan terintegrasi dengan baik dapat dijalankan akibat penggunaan konektivitas 3G. Meski kini teknologi 3G masih lazim digunakan di negara dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah namun teknologi jaringan berbasis 3G ini mulai memperlihatkan penurunan ketika produsen telepon pintar terkenal asal Amerika Serikat, Apple meliris iPhone yang dipersiapkan untuk bekerja dengan sempurna pada jaringan 4G. Transisi ini kemudian diikuti oleh beberapa produsen telepon pintar lainnya yang berarti bahwa pengenalan jaringan generasi selanjutnya tidak akan terlalu lama lagi.

4G

4G pertama kali diperkenalkan di Stockholm, Swedia dan Oslo, Norwegia pada tahun 2009 sebagai standar dari 4G Long Term Evolution (LTE). Teknologi informasi level teranyar ini kemudian diperkenalkan di seluruh dunia dan dampak utamanya paling terasa pada sektor streaming video berkualitas tinggi yang akhirnya menjadi kenyataan bagi jutaan konsumen di dunia.
Teknologi 4G juga menawarkan akses web seluler super cepat yang konon bisa mencapai kecepatan hingga 1 gigabyte per detik yang akhirnya memfasilitasi layanan game, video high definition dan teknologi konferensi video dengan kualitas tinggi. 4G mungkin tidak se-revolusioner teknologi informasi berbasis jaringan sebelumnya seperti 3G dan 2G namun peningkatan kecepatan transfer paket data ini telah membuka batas-batas baru dalam pertukaran informasi secara global.

Namun, ada hal menarik dari adaptasi teknologi 4G ini dimana ketika peralihan antara jaringan 2G ke 3G dapat dilakukan dengan mudah yakni melalui proses penggantian kartu SIM, dalan transisi ke teknologi jaringan 4G ini, para pengguna “dipaksa” untuk mengganti ponsel mereka ke perangkat seluler yang dirancang khusus untuk mendukung jaringan 4G.

Perubahan ini akhirnya membantu produsen ponsel pintar meningkatkan keuntungan mereka secara dramatis dengan memperkenalkan produk yang telah siap untuk digunakan dalam jaringan 4G terbaru ini. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor di balik kebangkitan Apple untuk menjadi perusahaan pertama di dunia yang menyentuh nilai valuasi tertinggi di dunia.

Namun bukannya tanpa kendala, teknologi informasi berbasis jaringan 4G yang merupakan standar saat ini di seluruh dunia, masih memiliki tantangan yang cukup berat dimana masih ada beberapa wilayah yang terkendala oleh jaringan yang tidak rata dan nyaris memiliki penetrasi 4G LTE yang cukup rendah. Tantangan inilah yang kemudian membuat banyak orang skeptis pada teknologi 5G yang diperkenalkan baru-baru ini.

Sponsor Link

5G

Dengan cakupan jaringan 4G yang masih sangat rendah, lantas mengapa fokusnya kini telah langsung dialihkan ke 5G? Beberapa dari kita mungkin memiliki pertanyaan ini di benak hati. Namun, sebelum kita dapat menjawab pertanyaan ini, perlu diketahui juga bahwa teknologi informasi berbasis jaringan 5G sebenarnya telah dirancang selama bertahun-tahun lamanya.
Teknologi 5G ini dipesiapkan untuk era Internet of Things (IoT) yang pertama kali diperkenalkan oleh Kevin Ashton dalam upayanya meyakinkan Procter & Gamble untuk mulai menggunakan teknologi tag RFID. Ungkapan yang tertangkap dari konsep IoT ini kemudian dengan segera disebut-sebut sebagai sebuah revolusi digital besar berikutnya yang akan melihat miliaran perangkat pintar terhubung dan berbagi data secara sempurna di seluruh dunia.

Ponsel bukan lagi hanya tentang komunikasi, dan konsep IoT secara garis besar telah masuk ke saku kita tanpa kita sadari. Kini ada sejumlah sensor yang tertanam di dalam ponsel pintar kita yang terhubung ke jaringan dan membantu kita menyelesaikan semuanya, mulai dari navigasi, fotografi hingga komunikasi dan masih banyak lagi.

Namun IoT tidak berbatas pada penggunaan di ponsel pintar, tetapi juga akan melihat data keluar dari pusat server dan masuk ke dalam apa yang dikenal sebagai perangkat tepi seperti peralatan yang mendukung Wi-Fi baik seperti lemari es pintar, mesin cuci, dan mobil.

Pada awal era 2000-an, para pengembang mulai melihat potensi masalah dengan jaringan 3G dan bahkan 4G yang nyaris tidak akan dapat mendukung kemampuan IoT secara sempurna. Hal ini dikarenakan oleh latensi 4G yang berada pada kisaran 40ms dan 60ms masih terlalu lambat untuk respon secara real-time, sejumlah peneliti akhirnya mulai mengembangkan jaringan seluler generasi berikutnya.

Pada awal tahun 2008, NASA mendapatkan sokongan dana untuk membantu meluncurkan Machine-to-Machine Intelligence (M2Mi) Corp untuk mengembangkan teknologi IoT dan M2M, serta teknologi 5G yang diperlukan untuk mendukungnya. Pada tahun yang sama, Korea Selatan mulai mengembangkan program R&D 5G dibawah asuhan Samsung, sementara Universitas New York mendirikan NYU WIRELESS yang berfokus pada adaptasi 5G pada tahun 2012 silam.

Konektivitas level superior yang ditawarkan oleh 5G dijanjikan akan mengubah segalanya dari cara perbankan bertransaksi hingga layanan kesehatan. 5G menawarkan kemungkinan inovasi seperti operasi jarak jauh, telemedicine dan bahkan pemantauan tanda-tanda vital jarak jauh yang mungkin dapat menyelamatkan nyawa. Tiga operator asal Korea Selatan yakni KT, LG Uplus dan SK Telecom telah meluncurkan layanan 5G komersial pertama mereka akhir tahun lalu dan menjanjikan peluncuran teknologi informasi jaringan 5G secara simultan pada Maret 2019 di seluruh pelosok negeri. Well, Indonesia kapan?

Apakah Anda memiliki masalah dalam menjalankan bisnis online? | PT APPKEY
Tidak hanya mengembangkan sistem website dan aplikasi, kami juga memiliki pengetahuan dan wawasan dalam menjalankan pemasaran online sehingga diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan Anda.

Tentang Kami
Pengenalan Layanan
Pengenalan Perusahaan
Kontak Kami

 

Jasa Pembuatan Website dan Aplikasi

Jika Anda menyukai artikel ini
Acungkan jempol