Perkiraan Penghasilan Gojek sebagai Perusahaan Startup

Sponsor Link

 

Disebut-sebut sebagai Unicorn, berapa sebenarnya penghasilan Gojek? Indonesia pada dasarnya tidak ketinggalan dalam hal berkompetisi dengan negara lain dalam domain jumlah startup yang telah didirikan. Indonesia adalah rumah bagi banyak startup lokal yang luar biasa dan telah sangat efisien dalam membangun brand mereka. Namun, satu startup telah melampaui semua startup lain untuk menjadi perusahaan bisnis yang benar-benar global dan decacorn pertama di Indonesia. Kisah Gojek yang bernada klasik dan legendaris dalam domain bisnis pasti akan menarik para pemula yang kemungkinan akan berbicara tentang penghasilan Gojek dan potensi perkembangan perusahaan ini.

Namun, kita tidak hanya akan membahas besaran penghasilan Gojek, tetapi belajar lebih banyak tentang seluk-beluk perusahaan dan memahami perjalanan Gojek yang benar-benar akan menginspirasi karena perusahaan ini telah mewakili kisah Rags to Rich ala Cinderella yang terus diceritakan dan diceritakan kembali dalam dunia bisnis yang kompetitif.

Lantas, apa itu GoJek?

GOJEK adalah angkutan dalam ranah lokal yang juga ikut berkecimpung dalam dunia logistik dan baru-baru ini telah memulai perjalanan sebagai media pembayaran digital yang pertama kali didirikan pada tahun 2010. Awalnya perusahaan ini adalah perusahaan penyedia jasa layanan penyewaan sepeda motor. Sekarang, Gojek telah berkembang menjadi platform seluler berdasarkan permintaan yang populer, dan pembuat aplikasi dengan peringkat level industri yang akan berada dalam ranah makro jika kita membahas berapa keuntungan Gojek per tahunnya. Perusahaan ini juga menyediakan berbagai layanan yang lebih luas seperti transportasi, logistik, pembayaran mobile, pengiriman makanan, dan banyak layanan berbasis permintaan lainnya.

Pada dasarnya sebuah sistem transportasi, Gojek berupaya untuk membawa perbaikan pada sekelompok besar pekerja informal. Sekarang, Gojek memiliki armada sepeda motor, mobil, dan truk terbesar dan merupakan pencipta lapangan kerja non-pemerintah terbesar di Indonesia. Bertanya tentang berapa laba maupun penghasilan Gojek akan sedikit tentatif mengingat beberapa faktor seperti subsidi masih memberi beban yang cukup besar bagi perusahaan ini. Namun, satu hal yang pasti adalah Gojek berada dalam track yang terus menanjak dalam hal perkembangan meski beberapa pengamat mengatakan bahwa startup ini kemungkinan besar akan beralih haluan ke ranah fintech dalam waktu dekat.

Namun, terlepas dari potensi pivotal yang akan atau tidak akan dipilih Gojek, Faktanya adalah Gojek merupakan anggota formal pertama ekosistem startup Indonesia yang berupaya mengembangkan operasi bisnis minornya menjadi entitas yang jauh lebih besar. Tidak heran, moto perusahaan Gojek mencerminkan layanannya yang memotivasi tujuan perusahaan: kecepatan, inovasi, dan dampak sosial. Tujuan perusahaan Gojek ini adalah memastikan bahwa para pengemudi yang bergabung akan melihat peningkatan pendapatan dasar mereka yang pada akhirnya membuat mereka menjadi warga negara Indonesia yang lebih mandiri. Tapi jelas, akan sulit untuk tidak membayangkan potensi besaran penghasilan Gojek yang telah nyaris diterima dengan tangan terbuka di hampir seluruh wilayah di Indonesia.

Apa yang istimewa dari Gojek?

 

Jasa Pembuatan Aplikasi

Seperti halnya Uber, raksasa aplikasi transportasi asal Amerika Serikat, perusahaan ini juga menyerupai tujuan dengan model penghasilan Gojek yang nyaris serupa. Namun, Gojek rasanya lebih memahami pasar, budaya, dan tradisi lokal yang memberikan keunggulan kompetitif atas Uber dan beberapa pesaing lainnya termasuk Grab –yang akhirnya mengakuisisi Uber Asia Tenggara.

Model usaha dari Uber yang lebih terglobalisasi menggunakan mobil sebagai pendorong bisnis utamanya, sementara Gojek bergantung pada skuter dan sepeda motor untuk kewirausahaannya. Kedua, di negara berkembang seperti Indonesia, orang dapat dengan mudah membeli dan memiliki skuter maupun sepeda motor karena harganya jauh lebih terjangkau ketimbang harga kendaraan roda empat.

Dengan kata lain, pasokan pengendara dan pengemudi asli asal Indonesia yang berjumlah besar membuat Gojek akhirnya dapat memimpin industri transportasi dalam kota dan melihat tanda-tanda pergerakan grafik keuntungan tim, kini kita tidak lagi akan berbicara tentang berapa laba Gojek, namun apa yang akan dilakukan Gojek kedepannya untuk menjaga cengkraman mereka dalam ekosistem ini.

Intinya, Gojek Indonesia jauh lebih waspada dan lebih pintar ketimbang Uber, yang pemahamannya tentang pasaran lokal tidak sebaik dan seefisien Gojek. Tampaknya, Gojek dapat meningkatkan skala operasi bisnisnya dengan cepat jika dibandingkan dengan Uber, yang tampaknya kesulitan di pasar yang sebagian besar berpenghasilan menengah ke bawah. Disinilah tantangan baru bagi startup decacorn ini untuk dapat menginisiasi penghasilan Gojek dan mengupayakan ekspansi ke pasar yang lebih global.

Masalah penting lain yang membantu Gojek untuk mengambil keuntungan dari Uber adalah bahwa sebagian besar kota di Indonesia sangat padat, dan lalu lintas masih sangat kacau. Dalam situasi seperti itu, skuter dan sepeda motor dapat dengan mudah beradaptasi dengan lalu lintas jam sibuk serta jauh lebih efisien ketimbang penggunaan mobil. Oleh karena itu, solusi transportasi yang ditawarkan oleh Gojek jauh fleksibel dan tidak merepotkan. Ketiga, integrasi inovatif Gojek dengan berbagai layanan yang dipersonalisasi ke dalam pembuatan aplikasi yang solid telah membuat penghasilan Gojek semakin meningkat tiap tahunnya.

Ekosistem startup Indonesia telah sangat kuat dan stabil karena kedekatannya dengan adat dan tradisi setempat. Kesaksian ini terlihat dalam reputasi dan penghasilan Gojek yang berbanding lurus dengan kesuksesan startup Indonesia yang sebagian besar disebabkan oleh inovasi, kehati-hatian dalam pengambilan keputusan dalam level perusahaan, dan etika bisnis yang sangat kuat.

Layanan yang ditawarkan Gojek

Aplikasi yang nyaris sempurna dengan pembaruan di tiap pekannya telah memberikan kepuasan bagi para pengguna yang ingin memilih Gojek untuk menjadi solusi satu lokasi guna menjawab kebutuhan mereka. Gojek bahkan meningkatkan potensi perluasan layanan mereka dengan menciptakan aplikasi Go Life yang lebih personal bagi para penggunanya.

Aplikasi Gojek -dan Go Life- memungkinkan Anda untuk mendapatkan manfaat di bawah ini.

  1. Mengatur dan memesan penjemputan dengan skuter atau sepeda motor dan juga mobil.
  2. Memesan truk atau box untuk mengangkut barang dan keperluan pribadi.
  3. Memesan tiket film.
  4. Memesan bahan makanan dari toko online.
  5. Memesan makanan dari restoran.
  6. Memesan layanan yang sangat dipersonalisasi seperti ahli kecantikan, pijat hingga bahkan pembersihan rumah.
  7. Membayar tagihan dan membeli voucher.
  8. Menjadi media pembayaran digital di beberapa outlet yang telah menjadi partner dari Gojek.

Dari semua layanan ini, layanan Go Food telah menjadi salah satu yang paling menarik perhatian karena kemudahan akses dan juga harganya yang sangat bersaing. Rentang wilayah yang cukup luas juga memberikan faktor kepuasan lagi bagi para pengguna yang ingin memesan makanan dari tempat yang mungkin akan terlalu jauh untuk dapat diakses secara pribadi.

Go Food juga kerap memberikan potongan harga yang cukup signifikan untuk tetap menjaga minat para pengguna mereka. Pertanyaan selanjutnya dalam benak Anda pasti “berapa potongan Go Food sehingga para pengguna bisa setia untuk tetap menggunakan layanan ini?”. Jawabannya akan sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain namun satu hal yang perlu Anda ketahui adalah dalam menjawab berapa potongan Go Food akan memerlukan pendalaman intensitas penggunaan yang cukup sering.

Beberapa pengguna melihat potongan yang diberikan gofood telah terlalu kecil jika dibandingkan dengan saat fitur ini pertama kali diluncurkan. Namun dengan berbagai perks lain yang ditawarkan seperti ongkos pengiriman yang gratis dan juga kenyamanan yang diberikan dalam layanan membuat potensi perkembangan dan sustainability fitur ini akan bertahan untuk waktu yang lama.

Berapa keuntungan Gojek per tahunnya?

Pertanyaanya seperti berapa keuntungan Gojek, berapa laba Gojek dan berapa penghasilan Gojek adalah pertanyaan-pertanyaan level mendasar dari mereka yang tidak memiliki pemahaman yang cukup kuat dalam merintis bisnis terutama startup. Pondasi sebuah bisnis yang menawarkan jasa transportasi dan layanan terpersonalisasi sekelas Gojek memiliki lapisan demi lapisan yang akan sulit untuk dapat dijawab dengan tiga pertanyaan simpel diatas.

Relevansi dalam penggunaan angka yang mungkin dilaporkan tiap tahunnya tidak membawa signifikansi yang besar dalam kenyataan bahwa perusahaan ini masih memberikan subsidi yang cukup besar untuk para driver mereka. Untuk menjawab tiga pertanyaan standar diatas dibutuhkan penjelasan mendalam dalam skema pendanaan yang telah diterima oleh Gojek dalam perjalanan mereka untuk menjadi perusahaan dengan label decacorn.

Gojek yang berkantor pusat di Indonesia telah berhasil menarik banyak potensi investor dan telah menggunakan pendanaan dari koleksi investor yang ada yang kini termasuk Google, Tencent dan JD.com yang konon akan menambah dan investasi sebesar 920 juta dollar ke dalam perusahaan ini. Kesepakatan ini, telah diumumkan awal tahun lalu yang kemudian menghargai bisnis Gojek pada kisaran 11 miliar dollar.

Dengan investor yang ada, perusahaan ini sekarang secara aktif akan meminta cek dari pendukung lain untuk membawa mereka pada target global. Modal ini kemungkinan akan digunakan untuk memperdalam kehadirannya di pasaran yang baru dan melanjutkan potensi transisi menjadi perusahaan fintech.

Jika dana investasi terbaru ini tidak dimasukkan dalam perhitungan, Gojek berarti telah mengumpulkan lebih dari 2 miliar dollar dari para investor hingga saat ini, termasuk round 1,4 miliar dollar yang berhasil diselesaikan tahun lalu yang membawa nilai bisnisnya menjadi sebesar 5 miliar dollar.

Aplikasi ride hailing di Asia Tenggara telah tumbuh dari nilai bisnis 8 miliar dollar pada tahun 2018 menjadi 31 miliar dollar pada tahun 2025, menurut laporan dari Google dan Temasek yang jelas akan menggambarkan berapa penghasilan Gojek tiap tahunnya jika mereka berhasil mengamankan peringkat pertama mereka dalam dominasi ini.

Indonesia sendiri diperkirakan akan menyumbang hampir setengah dari angka itu. Dengan populasi kumulatif lebih dari 620 juta orang dan peningkatan akses internet, Asia Tenggara telah muncul di atas bayang-bayang China dan India untuk menjadi pasar yang menarik bagi perusahaan startup dan perusahaan teknologi.

Raksasa Cina seperti Tencent dan Alibaba telah meningkatkan area investasi dalam beberapa tahun terakhir, dengan e-commerce, fintech dan layanan infrastruktur “ground zero” lainnya yang berada di antara target mereka karena wilayah tersebut mulai berubah secara digital dengan cara yang sama seperti yang telah dilalui China. Sokongan dana Tencent kepada Gojek diberitakan telah menjadi sangat signifikan dalam meningkatkan penghasilan Gojek dalam beberapa tahun terakhir.

Sejauh ini, Gojek telah menyebarkan layanan mereka di luar hanya ride hailing untuk menawarkan konsep fintech dan layanan lainnya di Indonesia, tetapi masih terlihat kesulitan dengan permainan regional yang menurut laporan Bloomberg telah menjadi salah satu yang menggerus penghasilan Gojek. Startup ini telah memperluas diri ke Vietnam, Thailand dan Singapura tahun lalu sementara Filipina sedang dalam proses menyusul kemunduran setelah ditolak izin operasi mereka pada awal bulan ini.

Namun, meski kegagalan ekspansi mereka saat ini, perusahaan ini telah membuat rencana baru dan mungkin alternatif untuk Filipina setelah mengakuisisi Coins.ph, sebuah startup fintech yang kemungkinan akan menjadi basis bagi dorongan lokal ke media pembayaran dan jasa keuangan. Kesepakatan ini masih secara resmi dirahasiakan, tetapi Gojek diyakini telah membayar sekitar 72 juta dollar untuk merger yang berpotensi menjadikannya sebagai akuisisi terbesar perusahaan tersebut hingga saat ini. Skala ini menunjukkan betapa seriusnya Gojek tentang upaya ekspansi dan rencana bisnis fintechnya.

Hingga kini Gojek mengklaim lebih dari 125 juta unduhan di Indonesia, lebih dari satu juta pengemudi dan sekitar 300.000 pedagang makanan. Startup ini juga mengklaim telah memproses 100 juta transaksi per bulan dengan total transaksi pada platformnya mencapai 12,5 miliar dollar tahun lalu. Namun, itu tidak berarti penghasilan bersih, karena perusahaan hanya mengambil sebagian dari tarif perjalanan dan volume pembayaran pelanggan. Jadi jelas bahwa menakar penghasilan Gojek akan sangat sulit mengingat potensi ekspansi dan transisi ke level global yang sedang dijalankan oleh perusahaan ini.

Transisi Go Pay dan Akuisisi JD.id?

Salah satu terobosan terbaru dari Gojek datang tahun lalu ketika memasuki sektor teknologi keuangan (fintech) dengan meluncurkan e-wallet, Go Pay, untuk memfasilitasi pembayaran tanpa uang tunai untuk semua layanan yang ditawarkan melalui Gojek. Pengguna Go Pay dapat menambah pulsa melalui transfer bank atau di ATM dan menggunakan ini untuk membayar siapa pun yang menawarkan layanan melalui Gojek. Mereka yang belum memiliki rekening bank dapat mengisi ulang wallet mereka melalui salah satu dari 400.000 pengemudi di 50 kota yang ada di Indonesia.

Namun, Gojek berharap fitur-fitur lain dari e-wallet seperti memfasilitasi transfer seluler antara rekening dan penarikan tunai dari ATM di bank-bank mitra dapat membantu mereka menjadi jawaban Indonesia terhadap perkembangan WeChat, aplikasi lain yang didukung Tencent, yang telah mengubah skema pembayaran digital di China. Go Pay saat ini hanya berfungsi sebagai bagian dari aplikasi Gojek, tetapi perusahaan ini berencana untuk memperluas penggunaannya yang semakin memperbesar besaran penghasilan Gojek. Startup ini mengatakan pengguna akan segera dapat menggunakan Go Pay untuk membeli barang secara online, menyelesaikan tagihan listrik dan membayar tol.

Bagian dari kesuksesan Go Pay adalah karena program berbasis hadiah (Go Points) yang diperkenalkan perusahaan pada bulan Januari. Setiap transaksi melalui Go Pay akan mendapatkan poin yang dapat ditukar dengan diskon untuk layanan di masa depan atau untuk barang-barang seperti iPhone, tiket konser, dll. Perusahaan ini mendapatkan kenaikan interaksi sebesar 60 persen dalam pembayaran non tunai berkat program ini.

Selain itu, telah ada juga diskusi sekitar tentang potensi akuisisi bisnis JD.id yang merupakan brand lokal dari JD.com, senilai lebih dari 1 milyar dollar dalam kesepakatan akuisisi. Sejauh ini, resolusi ini belum ditentukan meskipun telah melalui pembicaraan panjang. Akuisisi JD.id tidak hanya akan melihat pengaruh JD.com semakin dalam pada Gojek, tetapi juga akan memberikan startup ini ruang yang kuat untuk bertarung di jagad e-commerce Indonesia, yang mencakup tiga unicorn lainnya: Lazada yang dimiliki oleh Alibaba, Tokopedia yang didukung oleh Alibaba dan SoftBank’s Vision Fund dan juga Bukalapak, yang juga baru-baru ini telah mengumpulkan cukup banyak perhatian.

Satu hal yang pasti adalah dampak finansial Gojek telah sangat dirasakan oleh penduduk Indonesia bagi dalam ranah makro maupun mikro. Perkembangan ini terlepas dari skala penghasilan Gojek akan terus menjadi tumpuan untuk memberi Indonesia ruang baru untuk memamerkan kemampuan menciptakan perusahaan kelas dunia.

Apakah Anda memiliki masalah dalam mengelola dan mengembangkan aplikasi? | PT APPKEY
Tidak hanya terbatas pada pengembangan aplikasi, kami juga memiliki kemampuan dalam memperbaiki bug maupun eror pada aplikasi yang sedang dikembangkan sehingga dapat membantu menyelesaikan permalasahan Anda.

Tentang Kami
Pengenalan Layanan
Pengenalan Perusahaan
Kontak Kami

 

Jasa Pembuatan Website

Jika Anda menyukai artikel ini
Acungkan jempol