Perbedaan antara Ojek Online dengan Ojek Pangkalan

 

Ojek menjadi transportasi tidak resmi namun umum dipakai di Indonesia, ojek adalah sepeda motor atau sepeda yang dipakai untuk mengangkut penumpang. Ojek masuk dalam kategori transportasi tidak resmi karena adanya tukang ojek tidak memiliki surat izin pengoperasian, semua orang yang memiliki Sepeda Motor, SIM dan STNK bisa menjadi tukang ojek.

Dewasa ini tukang ojek (sapaan untuk orang yang menawarkan jasa ojek) kian hari semakin banyak jumlahnya, mereka ini tergabung dalam dua jenis tukan ojek yaitu tukang ojek pangkalan dan tukang ojek online.

Ojek sepeda memang tidak begitu berkembang di Indonesia namun ojek sepeda ini yang menjadi cikal bakal adanya ojek pangkalan dan ojek online sekarang. Ojek sepeda masuk dan berkembang di Indonesia pada tahun 1960-1970-an dimana pada saat itu di Perdesaan Provinsi Jawa tengah jalanan yang dilalui dalam kondisi rusak parah dan tidak bisa dilewati mobil.
Sedangkan untuk Jakarta Ojek sepeda dikenal sebagai alat transportasi di Tanjung Priok karena pada tahun 1970 ada larangan bemo dan becak masuk ke wilayah pelabuhan.

Berkembangnya ojek sepeda di Tanjung Priok pada waktu yang sama wilayah Jawa Tengah mulai masuk jenis transportasi ojek motor, lalu di tahun 1974 di Jakarta tepatnya di Ancol ada seorang pemodal yang membuka usaha ojek motor yang langsung disambut antusias oleh banyak orang, sampai sekarang ojek motor yang diam menunggu penumpang datang di suatu tempat ini dinamakan dengan ojek pangkalan.

Ojek pangkalan adalah para penyedia transportasi ojek yang biasanya berkumpul menetap di sebuah jalan yang dirasa ada banyak penumpang, ojek pangkalan biasanya ada di depan kompleks perumahan, depan gang, depan pasar, stasiun, terminal dan lainnya.

Ojek Online atau Ojek Daring

Ojek online terkenal lewat sebuah aplikasi transportasi karya anak bangsa yang diluncurkan tahun 2010. Layanan transportasi berbasis internet ini awalnya mendapatkan banyak masalah dari pihak driver maupun dari konsumennya. Namun seiring dengan kemajuan teknologi internet di Indonesia layanan ojek online ini mulai merambah ke berbagai bidang seperti pengantar makanan, pengantar belanjaan, pengantar barang, tempat beli pulsa dan paket data, tempat membeli tiket bioskop dan lain sebagainya.

Maraknya Fenomena Ojek Pangkalan vs Ojek Online

Selama proses perkembangannya ojek pangkalan dan ojek online sering mengalami selisih paham. Fenomena perselisihan ini sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia mengenai kecemburuan ojek pangkalan yang merasa ojek online merebut pendapatannya. Ada beberapa hal yang menjadi latar belakang fenomena ojek pangkalan vs ojek online.

Perbedaan logika

Logika sopan satuan di wilayah pangkalan ojek online mengutamakan istilah sopan santun ini dengan maksud di dalam ranah itu para pengemudi ojek pangkalan akan memiliki banyak nilai-nilai atau norma sosial yang harus dipatuhi para anggota tukang ojek yang mangkal di sana.

Misalnya saja antrian untuk mengambil penumpang, tidak boleh menerima atau mengambil penumpang di wilayah yang bukan menjadi wilayahnya. Sedangkan Logika dari tukang ojek online adalah Logika Korporasi yang berarti semua harus teratur dan memiliki kepastian dari segi harga, jarak tempuh, pelayanan dan asuransi.

Di dalam logika ini saja sudah menimbulkan konflik selisih paham di saat ojek online mengambil penumpang tanpa adanya antri dan tidak mematuhi batasan wilayah, ojek pangkalan menganggap bahwasanya ini sudah melanggar nilai dan norma sosial pangkalan.

Saat ini banyak batas-batas wilayah yang diberlakukan oleh ojek online mengenai boleh atau tidaknya mengambil penumpang, batas ini seperti apabila ada pangkalan ojek di daerah itu maka ojek online tidak boleh mengambil penumpang di zona merah tersebut dengan jarak radius aman, semisal ada penumpang yang memesan maka tukang ojek online akan mengarahkan penumpang untuk bertemu di luar zona merah atau titik kumpul dari ojek online yang dekat dengan keberadaan penumpang.

Tidak ingin terikat pendapatan

Mungkin dari kita merasa aneh mengapa ojek pangkalan ini tetap bersikeras menolak adanya ojek online sedangkan mereka bisa saja ikut bergabung dengan perusahaan penyedia jasa tersebut. Pendapat rasional mengenai penolakan mereka pernah disampaikan salah satu pengemudi ojek pangkalan kepada media massa yang kesimpulan dari penolakan itu adalah sebagai berikut.

“Kami (tukang ojek pangkalan) tidak mau bekerja untuk orang lain (perusahaan), meskipun mendapatkan penghasilan lebih, kami tidak mau membuat orang lain menjadi lebih kaya”.

Para ojek pangkalan percaya bahwa penghasilan yang mereka dapatkan meskipun sedikit akan menjadi pendapatan yang mereka bawa pulang setiap harinya dengan rasa bangga karena itu hasil usaha sendiri tanpa perlu terikat dengan sebuah perusahaan.

Pendatang vs pribumi

Menurut pengakuan ojek pangkalan yang ada di Jakarta, mereka ojek pangkalan ini sudah bekerja menjadi tukang ojek di wilayah tersebut selama bertahun-tahun sedangkan, para pengemudi ojek online orang baru atau malah sebagian adalah seorang pendatang dari luar Jakarta. Layaknya pendatang yang sering kali tidak memahami cara kerja atau aturan di wilayah yang ada, para ojek online dinilai tidak memiliki nilai solidaritas kepada teman sesama tukang ojek lantaran mengambil penumpang dimana saja, kapan saja dan tanpa sistem antri layaknya ojek pangkalan.

Umur dan Persyaratan untuk Ikut Menjadi Pengemudi Ojek Online

Perusahaan penyedia jasa transportasi online di Indonesia menyediakan seleksi bagi calon driver dengan berbagai persyaratan antara lain calon driver harus memperlihatkan STNK, SIM, dan dokumen yang legal lainnya seperti KTP atau Paspor. Selain itu untuk menjadi tukang ojek online pengemudi harus berusia di bawah 55 tahun sedangkan masalah pengemudi ojek pangkalan adalah mereka rata-rata sudah berusia di atas 55 tahun. Selain umur permasalahan administrasi kendaraan juga menjadi penyebab lainnya karena biasanya tukang ojek pangkalan menggunakan motor yang sudah lama dan tidak memiliki surat-surat pelengkap kendaraan.

Sponsor Link

Ancaman Fisik dari Ojek Pangkalan Terhadap Ojek Online

Di awal kemunculan ojek online di suatu wilayah seringkali diwarnai dengan aksi protes dari pengemudi ojek pangkalan, kebanyakan dari para pengemudi pangkalan ini tidak terima jika pendapatan mereka berkurang lantaran adanya ojek online yang bebas kesana kemarin mengambil penumpang. Perlakukan ojek pangkalan yang mengusir ojek online, memaki mereka sampai ke tahap ancaman fisik ini sering dialami oleh driver ojek online lantaran mereka mengambil penumpang di wilayah ojek pangkalan.

Ojek pangkalan mengancam ojek online ini secara beramai-ramai, sedangkan ojek online hanya seorang diri. Adanya bentuk ancaman dari ojek pangkalan ini di berbagai wilayah sering dilakukan mediasi pemecahan masalah, sedangkan dari pihak penyedia layanan aplikasi ojek online sendiri sudah mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya mengecam keras perbuatan kekerasan tersebut dan menghimbau supaya para driver tidak ikut-ikutan tersulut emosi dan pihak penyedia layanan sudah membekali driver ojek mereka dengan layanan asuransi.

Fenomena ojek pangkalan vs ojek online ini bukan hanya sekali dua kali terjadi tetapi sudah sering terjadi. Sekarang ini adaptasi dari ojek online dan ojek pangkalan terus dilakukan dimana tukang ojek online menghargai batas wilayah dari ojek pangkalan, mereka tidak akan mengambil penumpang yang jaraknya dekat dengan ojek pangkalan. Begitu pun ojek pangkalan yang sepertinya sudah menerima bahwa ada sarana transportasi ojek lain yang lebih mobile daripada mereka saat ini.

Fakta-Fakta Unik Mengenai Ojek

Adanya fenomena perselisihan ojek online versus ojek pangkalan di Indonesia ditanggapi pula oleh pemerintah. Pemerintah dalam hal ini mengacu pada Undang-undang nomor 22 tahun 2009 tidak mengakomodir ojek sebagai layanan transportasi umum sehingga ojek online maupun ojek pangkalan sama-sama tidak memiliki payung hukum yang jelas.

Kendati demikian pemerintah memberikan persyaratan yang harus dipenuhi oleh penyedia jasa transportasi ojek seperti memberikan asuransi kepada driver dan membekali driver dengan fasilitas keamanan standar nasional ketika driver berkendara, fakta-fakta unik mengenai ojek.

Aplikasi ojek online pernah dilarang beroperasi oleh Kementrian Perhubungan selama 12 jam

Mengacu pada peraturan UU No. 22 tahun 2009 mengenai lalu lintas angkutan jalan yang tidak mengakui bahwa kendaraan roda dua dalam hal ini motor sebagai bagian dari sarana transportasi umum, karena alasan tersebut Kementerian Perhubungan yang waktu itu dijabat oleh Bapak Ignasius Jonan melarang ojek online beroperasi pada 9 November 2015.

Larangan tersebut dituangkan dalam UM.3012/1/21/Phb/2015 semenjak d keluarkan larangan tersebut langsung mendapat protes keras dari pengemudi ojek online hasilnya lebih dari 12.000 orang menandatangani petisi untuk mencabut larangan tersebut. Presiden Joko Widodo yang mendengar kabar tersebut langsung memanggil Menteri Perhubungan ke Istana setelah pemanggilan tersebut, keputusan larangan beroperasi ojek online dicabut sampai sekarang ojek online diperbolehkan beroperasi.

Dari segi pelanggan, ojek online lebih diminati

Kehadiran ojek online yang memang menjadi solusi atas permasalahan ojek pangkalan selama bertahun-tahun lalu, salah satunya memiliki tujuan supaya penumpang tidak harus jauh-jauh mencari tukang ojek untuk bepergian. Pelanggan merasa terbantu dengan adanya layanan aplikasi ojek online ini lantaran mereka dimudahkan dalam berbagai aspek. Biaya yang jelas tertera di layar, penjemputan oleh driver yang terdaftar di data perusahaan penyedia layanan, bisa jemput dimana saja, kapan saja dan ongkos yang lebih murah.

Berbicara dari sudut pandang pelanggan ojek pangkalan. Calon penumpang tidak perlu menggunakan perangkat seluler untuk memesan ojek hal ini masih sangat membantu untuk mereka calon penumpang yang tidak bisa menggunakan smartphone atau aplikasi ojek online, jika ingin naik ojek bisa mencari pangkalan ojek terdekat.

Perbedaan Ojek Online dengan Ojek Pangkalan Dilihat dari Sudut Pandang Calon Penumpang

Pertama, ojek pangkalan harganya lebih mahal karena sistem penentuan tarifnya berdasarkan negosiasi antara calon penumpang dan driver, mahalnya tarif dari ojek pangkalan ini karena setelah mengantar penumpang mereka harus balik lagi ke pangkalan tanpa membawa penumpang, sedangkan ojek online penentuan tarif sudah tertera di aplikasi sebelum calon penumpang memesan ojek, setelah menyelesaikan perjalanan penumpang driver bisa mengambil penumpang lain.

Kedua, jarak tempuh yang dipilih ojek pangkalan berdasarkan pengalaman atau pengetahuan mereka sedangkan di ojek online mereka menyediakan fitur GPS untuk memantau pengemudi sampai mana dan kurang berapa lama lagi penumpang sampai di tujuan.

Ketiga, Fasilitas layanan, pada ojek pangkalan biasanya mereka membekali penumpang dengan fasilitas seadanya yang mereka miliki seperti helm seadanya, sedangkan untuk ojek online perusahan membekali mereka dengan helm yang sama, adanya fasilitas penutup rambut dan masker yang diberikan untuk penumpang yang membutuhkan, jaket yang dipakai pengemudi seragam jadi bisa meminimalisir adanya tindak kejahatan oleh pengemudi.

Keempat, di ojek online penumpang bisa memberikan feedback berupa penilaian, kritik dan saran yang disampaikan setelah melakukan perjalanan hal ini dipakai oleh penyedia jasa layanan transportasi untuk terus meningkatkan pelayanan mereka, di ojek pangkalan tidak adanya feedback sehingga apabila penumpang mengalami kerugian tidak bisa disampaikan.

Kelima, ada promosi potongan harga atau diskon untuk pelanggan. Penyedia jasa transportasi rutin memberikan promosi harga atau vocher potongan harga bagi pelanggan. Besarnya potongan harga, diskon atau voucher ini membuat ongkos perjalanan menjadi lebih murah. Sedangkan ojek pangkalan tidak bisa memberikan potongan harga atau promosi ini.

Ada 2 Penyedia Layanan Transportasi Ojek Online di Indonesia

Hijau-hijau atau hitam dengan garis hijau. Ya, di Indonesia sendiri adanya layanan ojek online dikuasai oleh 2 perusahaan besar, fakta-fakta unik keduanya yang sama-sama menggunakan warna hijau untuk seragam dan helm yang digunakan. Kedua perusahaan ini satu karya anak bangsa yang sudah berdiri dari 2010 dan yang satu dari perusahaan transportasi asal Malaysia yang mulai masuk ke Indonesia di tahun 2014. Keduanya, bersaing ketat namun tidak sampai terjadi bentrok lantaran para pengemudi dua ojek online ini memiliki logika berpikir yang sama bahwa ada aturan dan sistem kerja yang harus mereka patuhi.

Sponsor Link

Penghasilan Ojek Pangkalan vs Ojek Online

Bila pada ojek pangkalan semua hasil mengantar penumpang menjadi milik tukang ojek, berbeda dengan pendapatan ojek online. Bila dihitung memang pendapatan ojek online lebih besar dari ojek pangkalan akan tetapi ojek online ini memiliki sistem pendapatan bagi hasil dengan layanan penyedia jasa transportasi.

Sistem bagi hasil 80% untuk pengemudi dan 20% untuk penyedia layanan, pada penyedia jasa transportasi ojek juga memberlakukan sistem deposit mengendap yang artinya pengemudi memiliki batas minimal saldo yang ada di rekening akunnya, besarnya minimum saldo ini berbeda untuk masing-masing penyedia layanan.

Kejar target setiap harinya

Ojek online berjalan dengan menggunakan sistem aturan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Untuk mendapatkan bonus pendapatan para driver ojek online harus kejar target pemasukan setiap harinya. Sistem kejar target untuk mendapatkan bonus ini berbeda di masing-masing perusahaan namun yang pasti mereka para driver ojek online harus memenuhi target tersebut untuk bisa mendapatkan bonus.

Performance mereka juga ditentukan oleh bintang yang diberikan oleh penumpang, bila driver mendapatkan bintang sedikit dengan reputasi jelek bisa saja diberhentikan sementara atau masalah diberhentikan oleh penyedia jasa layanan transportasi ojek. Sedangkan untuk driver dengan bintang sempurna dan reputasi baik biasanya akan diprioritaskan untuk penumpang prioritas juga.

Menjadi pengemudi ojek online harus keluar modal terlebih dahulu

Pengemudi ojek online harus mengeluarkan modal terlebih dahulu untuk membeli helm, membeli jaket dari perusahaan, membeli paket data untuk menjalankan aplikasi, menyediakan pulsa telepon untuk menghubungi penumpang dan menyediakan bahan bakar. Pengeluaran mereka sebulan dengan jenis motor yang berbeda-beda setidaknya 800-1,4 juta setiap bulannya modal yang harus para driver ojek online keluarkan.

Biasanya para ojek online full-time menghabiskan waktunya 13 jam sehari selama sebulan libur sehari seminggu, asumsi setiap harinya ada sekitar 10-15 penumpang maka pengemudi ojek online bisa mendapatkan penghasilan 2-5 juta setiap bulannya. Penghasilan dan modal yang dikeluarkan pengemudi ojek online ini sebanding dengan lamanya mereka bekerja. Semakin lama waktunya dan banyak penumpang sebanding dengan besarnya modal yang harus dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh.

Apakah Anda memiliki masalah dalam mengelola dan mengembangkan aplikasi? | PT APPKEY
Tidak hanya terbatas pada pengembangan aplikasi, kami juga memiliki kemampuan dalam memperbaiki bug maupun eror pada aplikasi yang sedang dikembangkan sehingga dapat membantu menyelesaikan permalasahan Anda.

Tentang Kami
Pengenalan Layanan
Pengenalan Perusahaan
Kontak Kami
Sponsor Link

Tell Us What You Think
0Like0Love0Haha0Wow0Sad0Angry