Produk Beras Alternatif Mengalami Pertumbuhan Permintaan di Tengah Pandemi

Koperasi petani melaporkan, karena adanya pandemi Covid-19 ini menyebabkan gangguan terhadap perdagangan dan penurunan impor jual beras, yang telah menyebabkan peningkatan dua digit dalam permintaan produk-produk beras alternatif yang diproduksi secara lokal, berkualitas tinggi, dan alternatif.

Ketua Koperasi Mintogoro Hery Sugiarto mengatakan kepada The Jakarta Post, bahwa penjualan varietas beras asing berkualitas tinggi dan produk beras organik seperti beras Japonica, beras Basmati, beras Jasmine, dan beras hitam berprotein tinggi telah meningkat sebesar 20 persen. Koperasi ini berdomisili di Demak, Jawa Tengah.

Tambahnya, saat webinar online yang diadakan Koperasi Benih Indonesia (Kobeta) mengatakan pandemi ini berdampak positif terhadap bisnis jual beras mereka, karena permintaan produk mereka meningkat sebesar 20%.

Kondisi Pasar Saat Ini

Di sisi lain pasar untuk varietas barang asing di Indonesia sendiri masih relatif kecil dibandingkan dengan beras biasa. Menurut data terbaru yang dikumpulkan oleh Kementerian Pertanian, Indonesia mengimpor 295.714ton varietas padi istimewa dibandingkan dengan 987.500ton beras gabah sedang pada tahun 2016.

Menurut data Kementerian, varietas beras khusus terdiri dari Thailand, mali, basmati, japonica, beras merah, dan beras glikemik Thailand. Hery mengatakan gangguan perdagangan di seluruh dunia telah berdampak pada impor jual beras, meningkatkan permintaan untuk produk koperasi.

Menurut data Statistik Indonesia (BPS), negara itu mencatat penurunan impor tahunan 14,28 persen (yoy) antara Januari dan Juni. Selain itu, kenaikan kelas menengah ke atas di Indonesia juga telah mendukung pertumbuhan permintaan varietas padi spesial yang lebih mahal, yang dianggap lebih sehat daripada beras biasa.

Mereka juga menargetkan segmen kelas menengah ke atas. Karena mereka sangat mementingkan kualitas produk, kemudian produk dikemas dengan rapi dan memasarkannya melalui pasar online untuk menarik pelanggan.

Di tengah meningkatnya permintaan varietas padi khusus, Hery mengatakan benih dan pupuk berkualitas tinggi sangat penting untuk keberhasilan budidaya. Namun, ia menambahkan bahwa kadang-kadang benih sulit ditemukan.

Alokasi Dana Pemerintah

Ketua Koperasi Pertanian Jagadhita yang berbasis di Bali, Nyoman Suma Artha, menyuarakan keprihatinan yang sama, serta mendesak pemerintah untuk fokus pada peningkatan kualitas pupuk dan benih untuk meningkatkan hasil.

Nyoman mengatakan dengan menggunakan pupuk dan benih berkualitas tinggi, petani di Bali dapat meningkatkan produksi beras mereka, dalam per hektar hingga 5 ton. Kementerian Pertanian telah menetapkan target produksi beras sebesar 62,5 juta ton untuk tahun 2021, 5 persen lebih tinggi dari target tahun ini.

Pemerintah telah mengalokasikan Rp18,4 triliun (US $ 1,26 miliar) untuk anggaran 2021 kementerian, di mana sekitar setengahnya telah dialokasikan untuk program-program untuk memastikan ketersediaan dan aksesibilitas makanan berkualitas tinggi.

Namun, Menteri Pertanian Syahrul yasin Limpo pada 7 Juli mengatakan bahwa alokasi tersebut tidak akan cukup untuk membiayai kebijakam unutk meningkatkan produksi pangan, serta mengusulkan tambahan sebesar Rp 10 triliun dalam anggaran tahun depan.

Menurut kantor World Food Programme (WFP) Indonesia, Pada tahun 2019, kekeringan yang berkepanjangan menyebabkan penurunan produksi beras Indonesia, yang turun 13,2 persen tahun-ke-tahun menjadi 16,1 juta ton pada paruh pertama 2020.

Berita ini dilansir dari situs TheJakartaPost.

Apakah Anda memiliki masalah dalam pekerjaan Anda? | PT APPKEY
Tidak hanya terbatas pada penyediaan konten-konten tentang SEO, kami juga memiliki pengetahuan dan wawasan dalam menjalankan pemasaran online sehingga diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan Anda.

Tentang Kami
Pengenalan Layanan
Pengenalan Perusahaan
Kontak Kami

 

Jika Anda menyukai artikel ini
Acungkan jempol