Pemasaran Rumah Sakit | Strategi Pemasaran di Era Modern

Jasa Pembuatan Website

 

pemasaran rumah sakit tetaplah vital dan dikedepankan kendati rumah Sakit merupakan salah satu institusi pelayanan kesehatan yang tidak selalu berorientasi pada profit semata.

Rumah sakit mempunyai peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Menurut keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 340/MENKES/PER/III/2010 Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara Paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

Masuknya Indonesia ke zaman globalisasi (komunikasi) di mana persaingan pasar bebas yang mengharuskan kita untuk lebih kreatif dan inovatif. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, Kuasailah informasi niscaya engkau akan menguasai dunia.

Oleh karena itu pemasaran rumah sakit yang baik sangat penting agar rumah sakit terus bertahan dalam persaingan dan berkembang menjadi lebih baik.

Menurut Taurany (2008), solusi terbaik untuk menghadapi globalisasi adalah dengan menyiapkan daya saing yang tinggi melalui kepemimpinan yang memicu pada perubahan dan manajemen yang profesional, manajemen perubahan, peningkatan manajemen mutu, pengembangan sumber daya manusia, sarana dan teknologi, peningkatan kepuasan konsumen, peningkatan budaya organisasi, pemasaran yang efektif, dan peningkatan mekanisme dan kegiatan mengantisipasi, memantau dan menganalisis perubahan-perubahan lingkungan yang dampaknya berupa ancaman dan berupa peluang.

Berikut ini ada 5 faktor penting nya Rumah sakit melakukan pemasaran :

  1. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengantarkan kita memasuki era pasar yang bebas dimana batas geografi tidak lagi menjadi masalah.
  1. Semakin bebas dan mudahnya mobilitas masyarakat untuk memilih Rumah sakit dimana akan berobat menyebabkan persaingan antara Rumah sakit semakin ketat
  1. Banyak pesaing-pesaing baru bermunculan karena regulasi pemerintah di bidang kesehatan yang memang mendorong bertumbuhnya Rumah sakit baru.

Intinya, semua aktivitas pemasaran yang dilakukan untuk menghasilkan keunggulan bersaing yang mengikuti siklus, semua aktivitas harus diarahkan untuk menciptakan nilai unggul bagi pelanggan.

Pada zaman dahulu

Rumah sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya.

Perbandingan antara jumlah tempat tidur rumah sakit dengan jumlah penduduk Indonesia masih sangat rendah. Untuk 10 ribu penduduk cuma tersedia 6 ranjang rumah sakit.

Pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan bisnis untuk memperkenalkan produknya melakukan tinjauan pasar secara langsung dengan melakukan observasi atau penelitian lingkungan terlebih dahulu kondisi wilayah dan penduduk yang berada di lingkungan tersebut untuk mencari pasar mana yang akan mampu menampung produknya dan sesuai dengan produknya sehingga banyak konsumen yang akan membeli.

Selain itu untuk mengenalkan produknya harus bisa lebih intens tepat pada sasaran jadi misalnya door to door agar konsumen dapat melihat secara langsung.

Sponsor Link

Sejarah

Dalam sejarah kuno, kepercayaan dan pengobatan berhubungan sangat erat. Salah satu contoh institusi pengobatan tertua adalah Kuil Mesir. Kuil Asclepius di Yunani juga dipercaya memberikan pengobatan kepada Orang sakit, yang kemudian juga diadopsi bangsa Romawi sebagai kepercayaan. Kuil Romawi untuk Æsculapius dibangun pada tahun 291 SM di tanah Tiber, Roma dengan ritus-ritus hampir sama dengan kepercayaan Yunani.

Institusi yang spesifik untuk pengobatan pertama kali, ditemukan di India. Rumah sakit Brahmanti pertama kali didirikan di Sri Lanka pada tahun 431 SM, kemudian Raja Ashoka juga mendirikan 18 rumah sakit di Hindustan pada 230 SM dengan dilengkapi tenaga medis dan perawat yang dibiayai anggaran kerajaan.

Rumah sakit pertama yang melibatkan pula konsep pengajaran pengobatan, dengan mahasiswa yang diberikan pengajaran oleh tenaga ahli, adalah Akademi Gundishapur di Kerajaan Persia.

Rumah Sakit dan Perkembangannya di Indonesia

Sejarah perkembangan rumah sakit di Indonesia pertama sekali didirikan oleh VOC tahun 1626 dan kemudian juga oleh tentara Inggris pada zaman Raffles terutama ditujukan untuk melayani anggota militer beserta keluarganya secara gratis. Jika masyarakat pribumi memerlukan pertolongan, kepada mereka juga diberikan pelayanan gratis.

Hal ini berlanjut dengan rumah sakit-rumah sakit yang didirikan oleh kelompok agama. Sikap karitatif ini juga diteruskan oleh rumah sakit CBZ di Jakarta. Rumah sakit ini juga tidak memungut bayaran pada orang miskin dan gelandangan yang memerlukan pertolongan.

Semua ini telah menanamkan kesan yang mendalam di kalangan masyarakat pribumi bahwa pelayanan penyembuhan di rumah sakit adalah gratis. Mereka tidak mengetahui bahwa sejak zaman VOC, orang Eropa yang berobat di rumah sakit VOC (kecuali tentara dan keluarganya) ditarik bayaran termasuk pegawai VOC.

Komite Etik Rumah Sakit

Komite Etik Rumah Sakit (KARS), dapat dikatakan sebagai suatu badan yang secara resmi dibentuk dengan anggota dari berbagai disiplin perawatan kesehatan dalam rumah sakit yang bertugas untuk menangani berbagai masalah etik yang timbul dalam rumah sakit.

KERS dapat menjadi sarana efektif dalam mengusahakan saling pengertian antara berbagai pihak yang terlibat seperti dokter, pasien, keluarga pasien dan masyarakat tentang berbagai masalah etika hukum kedokteran yang muncul dalam perawatan kesehatan di rumah sakit.

Ada tiga fungsi KERS ini yaitu :

  1. pendidikan
  2. penyusun kebijakan
  3. pembahasan kasus.

Tugas KERS adalah menjalankan fungsi pendidikan etika. Dalam rumah sakit ada kebutuhan akan kemampuan memahami masalah etika, melakukan diskusi multidisiplin tentang kasus medikolegal dan dilema etika biomedis dan proses pengambilan keputusan yang terkait dengan permasalahan ini.

Dengan dibentuknya KERS, pengetahuan dasar bidang etika kedokteran dapat diupayakan dalam institusi dan pengetahuan tentang etika diharapkan akan menelurkan tindakan yang profesional etis. Komite tidak akan mampu mengajari orang lain, jika ia tidak cukup kemampuannya.

tugas pertama komite adalah meningkatkan pengetahuan anggota komite. Etika kedokteran dewasa ini berkembang sangat pesat. Di Indonesia etika kedokteran relatif baru dan yang berminat tidak banyak sehingga lebih sulit mencari bahan bacaan yang berkaitan dengan hal ini. Pendidikan bagi anggota komite dapat dilakukan :

  1. belajar sendiri
  2. belajar berkelompok
  3. mengundang pakar dalam bidang agama
  4. hukum
  5. sosial
  6. psikologi atau etika yang mendalami bidang etika kedokteran

Para anggota komite setidaknya harus menguasai berbagai istilah/konsep etika, proses analisis dan pengambilan keputusan dalam etika. Pengetahuan tentang etik akan lebih mudah dipahami jika ia diterapkan dalam berbagai kasus nyata. Semakin banyak kasus yang dibahas, akan semakin jelaslah bagi anggota komite bagaimana bentuk tatalaksana pengambilan keputusan yang baik. Pendidikan etika tidak terbatas pada pimpinan dan staf rumah sakit saja.

Pemilik dan anggota yayasan, pasien, keluarga pasien, dan masyarakat dapat diikutsertakan dalam pendidikan etika. Pemahaman akan permasalahan etika akan menambah kepercayaan masyarakat dan membuka wawasan mereka bahwa rumah sakit bekerja untuk kepentingan pasien dan masyarakat pada umumnya. Selama ini dalam struktur rumah sakit di Indonesia dikenal sub komite/panitia etik profesi medik yang merupakan struktur dibawah komite medik yang bertugas menangani masalah etika rumah sakit.

Pada umumnya anggota panitia ini adalah Dokter dan masalah yang ditangani lebih banyak yang berkaitan dengan pelanggaran etika profesi. Mengingat etika kedokteran sekarang ini sudah berkembang begitu luas dan kompleks maka keberadaan dan posisi panitia ini tidak lagi memadai. Rumah sakit memerlukan tim atau komite yang dapat menangani masalah etika rumah sakit dan tanggung jawab langsung kepada direksi.

Jumlah anggota disesuaikan dengan kebutuhan. Keanggotaan komite bersifat multi disiplin meliputi dokter (merupakan mayoritas anggota) dari berbagai spesialisasi, perawat, pekerja sosial, rohaniawan, wakil administrasi rumah sakit, wakil masyarakat, etikawan, dan ahli hukum.

Tujuan pemasaran rumah sakit

Tujuan utamannya adalah memperkenalkan rumah sakit pada masyarakat luas, menginformasikan sejelas-jelasnya mengenai fasilitas dan kemampuan pelayanan yang dimiliki oleh rumah sakit, membentuk dan membina citra rumah sakit melalui kepercayaan dan penghargaan masyarakat terhadap kemampuan rumah sakit secara optimal dan juga mengharapkan terjadinya peningkatan penghasilan.

Berikut ini 7 unsur bauran pemasaran jasa pada rumah sakit, antara lain :

Product (produk)

Jasa atau pelayanan rumah sakit yang ditawarkan kepada pasien/konsumen. Rumah sakit harus memiliki layanan Unggulan sebagai kelebihan dari rumah sakit dan sebagai pembeda dari rumah sakit lain.

Price (Harga/tarif)

Sejumlah biaya yang harus dikeluarkan pelanggan untuk memperoleh pelayanan rumah sakit. Pembiayaan di era JKN menggunakan sistem paket INA CBGS. Rumah sakit harus betul-betul efisiensi dan efektif agar tidak rugi.

Place (Tempat)

Pelaksanaan program penyaluran pelayanan melalui lokasi, tempat dan waktu serta jumlah yang tepat, sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Tempat dan alamat rumah sakit harus mudah diakses melalui alat informasi seperti HP atau Web, dan mengoptimalkan media sosial.

Promotion (promosi)

Kombinasi dari variabel-variabel periklanan, penjualan tatap muka, promosi penjualan, dan publisitas yang dilakukan oleh rumah sakit dalam upaya menginformasikan produk pelayanan kepada para konsumen, sehingga para konsumen termotivasi atau terdorong untuk melakukan pembelian. Dalam era serba digital saat ini kebanyakan masyarakat memiliki hp.

Pemasaran Rumah Sakit harus kreatif dan informatif untuk mendapatkan perhatian dari konsumen. Berikut ini ada beberapa kegiatan promosi yang harus dilakukan rumah sakit, antara lain :

  • Pemberian informasi melalui Web resmi Rumah sakit
  • Pengembangan jejaring pelayanan kesehatan
  • Aktif di kegiatan Web seminar
  • Promosi lewat media massa seperti radio dan televisi
  • Aktif promosi di jejaring media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Twitter dll
  • Promosi melalui leaflet dan spanduk
  • Informasi melalui organisasi pasien seperti club stroke
  • Mengikuti kegiatan pameran
  • Pendaftaran online rumah sakit

People (orang)

Orang-orang yang terlibat langsung dalam menjalankan segala aktivitas pelayanan rumah sakit, dan merupakan faktor yang memegang peranan penting bagi semua organisasi.

Orang-orang yang terlibat langsung ini sangat penting dalam mempengaruhi mutu jasa yang ditawarkan dan image Rumah Sakit. Tantangan utama Rumah Sakit adalah SDM.

Namun,SDM kurang cekatan mengikuti perkembangan.

Process (proses)

Rumah Sakit harus memberikan proses pelayanan sangat efektif tidak ada lagi birokrasi yang berbelit-belit kerja sama antara Marketing dan operasional sangat penting dalam elemen dalam proses ini, terutama dalam melayani semua kebutuhan dan keinginan konsumen secara cepat dan tepat. Karena di era globalisasi saat ini konsumen bebas menentukan pilihan.

Sponsor Link

Physical Evidence (sarana fisik)

Suatu hal yang secara nyata turut mempengaruhi keputusan konsumen, untuk membeli dan menggunakan Produk jasa yang ditawarkan. Unsur-unsur yang terdapat di dalam Physical Evidence, antara lain :

  • Lingkungan fisik dalam hal ini bangunan fisik
  • Perabot/peralatan
  • Perlengkapan
  • Logo
  • Warna dan barang-barang lainnya
  • disatukan dengan Service yang diberikan seperti karcis, sampul, label dan lain sebagainya.
  • Atmosfer Rumah Sakit yang menunjang seperti visual, aroma, suara, tata ruang, layout, ruangan dan lain-lain.
  • Membangun citra yang kuat bagi masyarakat.

7 unsur di atas harus bergerak ke arah yang sama, jika tidak maka tujuan pemasaran tidak akan tercapai.

Manajemen Pemasaran

Pemasaran menurut Kotler (1997) adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain. Sedangkan menurut (Hartono, 2010) adalah suatu upaya Rumah Sakit menyimak persepsi masyarakat tentang kebutuhannya sehingga Rumah Sakit dapat mengetahui pelayanan-pelayanan apa yang dapat ditawarkannya kepada masyarakat.

Simpulan

Manajemen pemasaran adalah melakukan rangkaian proses untuk menciptakan suatu nilai guna membantu pencapaian tujuan organisasi atau perusahaan. Fungsi manajemen pemasaran tidak hanya memasarkan layanan Rumah Sakit tetapi juga manajemen pemasaran meliputi analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian pemasaran.

Karakteristik pelayanan Rumah Sakit

World Health Organization (WHO) mendefinisikan Rumah Sakit sebagai sebuah sarana tinggal yang menyediakan pelayanan medik singkat atau lama, yang meliputi pelayanan pengamatan, diagnostik, pengobatan, dan pemulihan untuk mereka yang menderita penyakit atau cedera dan untuk yang melahirkan. Berikut 3 ciri kebutuhan pelayanan kesehatan, yaitu :

Uncertainty (ketidakpastian)

Bahwa kebutuhan akan pelayanan kesehatan tidak bisa pasti, baik waktu, tempat maupun besarnya biaya yang dibutuhkan. Karena ketidakpastian ini sulit bagi seseorang untuk menganggarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatannya.

Sebab penduduk yang penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan yang tidak diketahui datangnya, bahkan penduduk yang relatif berpendapatan memadai sekalipun sering kali tidak sanggup memenuhi kebutuhan medisnya. Maka dalam hal ini seseorang yang tidak miskin dapat menjadi miskin atau bangkrut mana kala menderita sakit.

Asymmetry of Information

Menunjukkan bahwa konsumen pelayanan kesehatan berada pada posisi yang lemah, sedangkan provider (dokter dan petugas kesehatan lainnya) mengetahui jauh lebih banyak tentang manfaat dan kualitas pelayanan yang dijualnya.

Dapat dibayangkan jika provider atau penjual memaksimalkan laba dan tidak mempunyai integritas yang kuat terhadap norma-norma agama dan sosial sangat mudah terjadi penyalahgunaan atau moral hazard yang dapat dilakukan oleh provider.

Sponsor Link

Externality

Menunjukkan bahwa konsumsi pelayanan kesehatan tidak saja mempengaruhi pembeli tetapi juga bukan pembeli. Sebab pembiayaan pelayanan kesehatan tidak saja menjadi tanggung jawab diri sendiri, akan tetapi perlunya digalang tanggung Jawab bersama (publik) (feldstein, 1993).

Menurut Djojodibroto (1997) bahwa organisasi rumah sakit mempunyai sejumlah sifat atau karakteristik yang tidak dipunyai organisasi lainnya, antara lain:

  1. Sebagian besar tenaga kerja rumah sakit adalah tenaga profesional
  1. Wewenang kepala rumah sakit berbeda dengan wewenang pimpinan perusahaan
  1. Tugas-tugas kelompok profesional lebih banyak dibandingkan tugas kelompok manajerial
  1. Beban kerjanya tidak bisa diatur
  2. Jumlah pekerjaan dan sifat pekerjaan di unit kerja beragam
  1. Hampir semua kegiatannya bersifat penting
  2. Pelayanan rumah sakit sifatnya sangat individualistik. Setiap pasien harus dipandang sebagai individu yang utuh, aspek fisik, aspek mental, aspek sosio kultural dan aspek spiritual harus mendapat perhatian penuh
  1. Pelayanan bersifat pribadi, cepat dan tepat
  2. Pelayanan berjalan terus menerus selama 24 jam dalam sehari.

Sedangkan Menurut Yuli (2009) menyatakan karakteristik pelayanan RS adalah :

  1. Rumah Sakit adalah Industri Jasa
  2. Rumah Sakit menjalankan Fungsi Sosial
  3. Rumah Sakit diatur dengan Regulasi/ Etika
  4. Rumah Sakit berhierarki Ganda
  5. Rumah Sakit memiliki Sistem Pembayaran

Konsep Pemasaran di Rumah Sakit

Faktor yang melatarbelakangi penerapan pemasaran di rumah sakit adalah :

  1. Utilisasi Rendah oleh pasien sehingga diperlukan peran pemasaran sebagai ajang melakukan kegiatan promosi untuk memanfaatkan pelayanan rumah sakit dalam mengatasi masalah kesehatannya
  1. Transisi orientasi rumah sakit dari hanya orientasi sosial sekarang bergeser ke orientasi Pasar untuk profit, tapi bukan menjadi tujuan utama rumah sakit.
  1. Tingginya persaingan antara rumah sakit sehingga terjadi Kompetisi dalam berlomba-lomba memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada pelanggan.
  1. Regulasi Kesehatan
  2. Tuntutan perkembangan Globalisasi sehingga tuntutan konsumen yang semakin banyak mengarahkan rumah sakit selalu mengembangkan diri dan memberikan pelayanan terbaik
  1. Tuntutan Mutu
  2. Keterbatasan SDM
  3. Konsumen Kritis dengan adanya pemasaran Rumah sakit yang dapat melakukan riset pemasaran untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan pasien, rumah sakit menyediakan dan memberikan pelayanan. Ada beberapa manfaat dari pemasaran di rumah sakit adalah :
    • Kepuasan konsumen/stakeholder
    • Meningkatkan kualitas pelayanan
    • Meningkatkan efisiensi
    • Paham/peka kebutuhan masyarakat
    • Pelayanan lebih terfokus
    • Penghentian pelayanan merugi
    • Produk baru & peluncuran produk baru
    • Distribusi jasa lebih efektif
    • Pendekatan harga kreatif
    • Desain tempat & fungsi lebih menarik
    • Memuaskan pasien, dokter & karyawan
    • Informasi lebih luas diterima

Apakah Anda memiliki masalah dalam pekerjaan Anda? | PT APPKEY
Tidak hanya terbatas pada penyediaan konten-konten tentang SEO, kami juga memiliki pengetahuan dan wawasan dalam menjalankan pemasaran online sehingga diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan Anda.

Tentang Kami
Pengenalan Layanan
Pengenalan Perusahaan
Kontak Kami
Sponsor Link

Jika Anda menyukai artikel ini
Acungkan jempol